SAHABAT PEMDA – Gunung Botak memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi. Di kawasan ini terdapat situs sakral peninggalan Kapitan Baman Tausia, yakni jejak tapak kakinya yang hingga kini masih dijaga ketat oleh ketujuh kepala soa Waelata.
Gunung ini juga menjadi saksi bisu peperangan besar yang dituntaskan oleh Kapitan Baman Tausia, salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan di Pulau Buru. Selama berabad-abad, Gunung Botak dijaga oleh kepala-kepala soa, para tetua adat, serta anak-cucu keturunan Kapitan Baman Tausia.
Seiring perjalanan waktu, sebagian wilayah di sekitar Gunung Botak pernah diizinkan untuk digunakan pihak lain. Misalnya, pemberian ketel Anhoni kepada Raja Kaiyeli Mansur Wael, dari generasi ke-17 Hinolong Baman, maupun pemberian hak berburu (broho atau tapa) kepada keluarga lain dari generasi ke-16 Hinolong Baman. Namun, tokoh adat menegaskan bahwa izin tersebut hanya bersifat penggunaan terbatas, bukan hak milik. Hal ini sesuai amanat Kapitan Baman Tausia kepada generasi Hinolong Baman pertama.
Hingga kini, seluruh anak-cucu masyarakat adat masih diperbolehkan memanfaatkan hasil alam di kawasan Gunung Lea Bumi. Namun, pemanfaatannya tetap diatur oleh Hinolong Baman dan harus mendapatkan izin dari ahli waris keturunannya. (***)
