Buru – Upaya konservasi penyu di wilayah pesisir Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Buru, terus menunjukkan hasil positif. Sejak tahun 2017, WWF Indonesia melalui program konservasi penyu aktif bekerja sama dengan berbagai mitra dan masyarakat lokal untuk melindungi spesies penyu yang mendarat dan bertelur di wilayah tersebut.
Marine “Biodiversity” Officer WWF Pulau Buru, “Naufal” dari Yayasan “WWF” Indonesia, menjelaskan bahwa kegiatan konservasi difokuskan pada empat pantai di empat desa, yakni Pantai Desa “Wamlana, Waspait, Waekose, dan Waenibe”. Keempat lokasi tersebut merupakan titik penting pendaratan penyu di Kecamatan Fena Leisela.

“Sejak 2017 WWF hadir untuk melakukan konservasi penyu. Langkah awal yang kami lakukan adalah pendataan, mulai dari pencatatan pendaratan penyu, jumlah spesies yang naik ke pantai, jumlah telur yang dihasilkan, hingga tingkat keberhasilan penetasan telur,” jelas “Naufal”.
Selain pendataan, WWF juga melakukan perlindungan sarang penyu. Apabila sarang dinilai berada dalam kondisi berisiko, seperti terancam pasang surut air laut, lokasi yang terlalu rendah, atau rawan pencurian, maka dilakukan relokasi telur ke tempat yang lebih aman dan lebih tinggi.
“Hasilnya, sejak tahun 2023, tingkat pencurian sarang telur penyu menurun drastis hingga berada di bawah 5 persen. Capaian ini dinilai sebagai bukti keberhasilan pendekatan berbasis masyarakat dalam upaya konservasi,” ungkap “Naufal”.
“Naufal” menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama dengan pemerintah desa, tokoh agama, dan dukungan pemerintah setempat. “Masyarakat sebenarnya bisa memahami pentingnya konservasi, asalkan dilakukan dengan pendekatan yang baik dan juga memberikan manfaat nyata bagi mereka,”ucap NAUFAL tutupnya. (kabiro buru)
